Cara Jadi Member IFA : SMS #NAMA*TGLLAHIR*JNSKLMN*STATUS*KTPNO*ALAMAT RUMAH*KODEPOS*KOTA*TELP/HP*PEKERJAAN*AGAMA*NAMAPASANGAN*TGLLAHIR*DATA BANK*CABANG*NO REK*ATAS NAMA# KIRIM KE : 0831 5209 6988 atau Daf tar Melalui http://ifasmart.com

Biaya Starterkit Rp. 50.000,-

Tuesday, 2 November 2010

Dian Setiawati, Jakarta: Bermula dari Iklan Busana Muslim

Baginya, IFA tak hanya memberikan keuntungan financial, tetapi juga ilmu, wawasan, keterampilan dan banyak teman.

Ramadhan di bulan September 2006 menjadi hari bersejarah bagi Dian Setiawati. Ketika itu lebaran tinggal hitungan hari. Sejumlah persiapan menyambut hari raya fitri itu ia lakukan sejak dini. Termasuk membelikan busana baru terbaik bagi keluarganya. Dian sendiri, suami dan anak-anaknya. Untuk urusan busana ia biasa membeli dari perusahaan MLM yang ia lakoni saat itu. Sayangnya, busana muslim tak ia jumpai di katalog MLM tersebut.

Perempuan kelahiran Jakarta, 6 Oktober 1967 ini pun beralih mencarinya ke sejumlah majalah dan tabloid terbaru yang terbit pekan itu. Setelah membolak-balik tumpukan majalah dan tabloid matanya berhenti pada cover salah satu tabloid nasional. “Di covernya ada gambar busana muslim,” kenang Dian. Ia pun langsung mengontak nomor telpon yang tercantum di iklan itu. “Ternyata koleksi busana muslim itu berasal dari produk MLM IFA,” ujarnya.

Nampaknya ibu dari Azizah Rahmania Putri (7) dan Alya Zhafira Thahirah (5) ini terpesona pada pandangan pertama. “Saya tertarik dengan produk-produk tersebut dan akhirnya bergabung menjadi membernya,” jelasnya. Padahal sebulan sebelumnya ia baru saja bergabung dengan sebuah MLM fashion dari mancanegara. Alasan bergabung pun hanya untuk mencari tambahan penghasilan saja. Nah, ramadhan tahun itu selain mencari busana muslim untuk keluarganya, ia juga hendak menjual kepada pelanggannya. Apalagi permintaan busana jenis itu dikala bulan puasa juga meningkat. “Di MLM sebelumnya koleksi busana muslimnya tak lengkap. Makanya saya beralih ke IFA yang jauh lebih lengkap,” tuturnya kepada penulis awal Januari lalu di kediaman koleganya di Koja, Jakarta Utara.

Sewaktu menjalankan MLM “SM”, kata Dian menyebut salah satu MLM asal mancanegara, omzetnya lumayan. “Tetapi bonusnya ngga beres.” Ketika meminta penjelasan pada upline-nya dan kontak langsung ke kantor perusahaan juga dioper-oper saja. “Paling ucapan selamat saja yang saya terima.” Selain koleksinya lengkap, jelas Dian, di iFA perhitungan bonusnya juga jelas. Setiap ada promo bonus bagi perekrut dengan jumlah tertentu misalnya, selalu nyata hadiahnya. “Saya pernah merekrut 4 orang dalam sebulan. Hadiah tas saya dapatkan. Dari situlah saya percaya bahwa IFA tak sekedar mengumbar janji,” jelas istri dari Dwi Rahmad Sujiyoto ini. “Jadi bonus ada, hadiah rekrutan juga ada.”

Tak terasa sudah dua tahun Dian menjalankan bisnis IFA. Banyak suka, tak sedikit duka. Produk dengan harga tinggi ia tak menjualnya kontan, melainkan dikreditkan 2-3 kali bayar. “Kadang ada yang terlambat membayar cicilan. Inilah dukanya,” Dian memberitahu. Pernah ada salah satu pelanggannya belum lunas bayar, malah kabur entah ke mana. “Tapi saya ngga pernah kapok. Kalau saya kapok mungkin saya ngga akan seperti ini,” tukas Dian bersemangat.

Ditolak orang menjadi hal biasa bagi Dian. Itu, katanya sudah biasa. Ia punya prinsip, “Misalnya lima jari, pasti ada yang yes ada pula yang no,” katanya berfilosofi. Dengan prinsip inilah Dian tak pernah berputus asa dalam mengembangkan jaringan bisnis IFA-nya. Apalagi setelah ia merasakan sejumlah keuntungan dari IFA seperti sepeda motor gratis (KCSM) dari IFA. Bonus ini ia peroleh pada September tahun lalu setelah meraih jenjang karir IFA Silver Agent (ISA). Ini selain bonus jutaan rupiah yang ia terima tiap bulan dengan nilai sesuai omzet dan jaringan yang berhasil dikembangkan.

Tahun ini (2009) sederet bonus yang lebih tinggi menantinya. Komisi Perjalanan Ibadah (KPI) dan Komisi Perjalanan Wisata Asia (KPW 1) adalah diantaranya. Dua bonus ini memang disediakan bagi member IFA yang menyandang karir ISA. Dan perempuan yang tinggal di Jl. Kebantenan V No. 5, Semper Timur, Jakarta Uara ini tak akan sulit untuk meraihnya. Pasalnya, suami tercintanya juga turut mendukung 100% bisnis yang ia kembangkan ini. Selain menjadi member, Dwi Rahmad Sujiyoto, sang suami ini juga kerap mengantar-jemput Dian tatkala pergi untuk presentasi IFA.

“Mulanya sempat marah-marah. Meminta saya menjaga anak-anak saja. Tetapi setelah melihat bonusnya mencapai jutaan rupiah tiap bulan ia kini malah menganjurkan untuk terus menjalankan IFA,” paparnya. Bahkan kalau Dian akan pergi rapat atau pertemuan IFA, suaminya yang berprofesi sebagai guru di SMA 73 ini gantian yang menjaga kedua anak mereka. Sebuah relasi suami-isteri yang menunjukkan kesetaraan peran dalam rumah tangga.

Kini, omzet bisnis bersama IFA pun terus melejit. Tiap bulan rata-rata mencapai 80-100juta rupiah. Bagi ibu rumah tangga omzet bisnis yang hanya bermodalkan katalog produk ini merupakan angka yang tidak kecil. Terbukti keuntungan dari omzet ini selain untuk membiayai kebutuhan keluarga juga ia gunakan untuk menyicil sepeda motor. “Jadi, selain motor dari IFA, sebelumnya saya sudah berhasil membeli motor dengan cara menyicil. Uang cicilan itulah berasal dari keuntungan menjalankan IFA,” ujar Dian bangga.

Capaian Dian tak lepas dari kerja keras dan keseriusannya mengembangkan bisnis IFA. Program seperti Home Sharing dan Gebyar Pengembangan Daerah Baru kerap ia lakukan. Usaha merekrut orang baru sekaligus menjual produk pun tak pernah berhenti. Karenanya, dalam waktu yang tidak lama sejak bergabung, ia sudah berhasil membuka Depot. “Saya buka Depot di Jelambar, Jakarta Barat.”

Ada alasan tersendiri bagi Dian yang tinggal di Cilincing, Jakarta Utara tetapi membuka Depot di Jelambar Jakarta Barat. “Di wilayah Tanjung Priok kan sudah ada Bu Intan (Depot Intan), makanya saya memilih buka di Jelambar yang belum ada Depotnya,” jelasnya. Di Jelambar, Dian memanfaatkan rumah tinggal orang tuanya untuk membuka Depot. Pengelolaannya pun dipercayakan pada adiknya. Dian fokus pada rekrut dan jual produk.

Jakarta Barat sendiri merupakan wilayah yang masih potensial untuk pengembangan IFA. Dengan luas wilayah 127,11 km2, memiliki jumlah penduduk 2.389.900 jiwa lebih yang tersebar dalam 8 kecamatan dan 56 kelurahan menjadi target pasar bagi IFA. Sebagai daerah industri, termasuk sentra industri kecil, wilayah ini juga tengah mengembangkan wilayah industrinya di bilangan Kapuk dan Kalideres. Para pekerja di industri-industri tersebutlah yang dapat dijadikan sasaran untuk member dan konsumen IFA.

“Tak ada trik khusus. Saya selalu menyiapkan starterkit dengan jumlah lebih agar dapat digunakan sebagai alat marketing oleh jaringan saya,” terang Dian yang merasa cara seperti itu masih cukup efektif untuk merekrut member baru. Selain berisi buku panduan, starterkit juga berisi katalog terbaru, alat pengukur baju, sepatu, majalah, dll., sehingga dalam paket kit tersebut sangat lengkap sebagai alat untuk memperkenalkan IFA pada calon member baru.

Dian sebetulnya juga sangat ingin mengikutsertakan member-membernya dalam training-training yang dihelat IFA. “Jarang yang bisa ikut. Umumnya member-member saya kan karyawan/ pekerja, jadi susah atur waktunya,” alasannya. Ia sendiri mengikuti training, terutama IFA Basic Training (IBT) dalam program IFA Leadership Program (ILP) tahun 2007 lalu.

“Tambah percaya diri dan nggak minder lagi,” ujar Dian setelah mengikuti training tersebut. Menurutnya, di MLM lain tidak ada pelatihan semacam IBT atau ILP. Ia mengaku, kelebihan dari pelatihan ini adalah tidak membeda-bedakan orang dari ragam latar belakangnya. Tak ada sekat-sekat, tak ada pula pembedaan. “Di sini saya merasakan rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan yang ada di IFA. Ngga ada jarak satu sama lainnya. Rasa solidaritas dan sosial pun juga diajarkan di IBT. Ketika ada bencana, kita diajarkan bagaimana cara menolong dan membantu sesama.”

Perubahan lain yang Dian dapatkan dari IBT tersebut adalah menjadikannya banyak teman, ilmu dan wawasan juga bertambah, begitu juga dengan keuangan, kian meningkat. “Sama suami pun semakin dekat, semakin sayang,” tuturnya bangga. Bagi Dian, IFA tak hanya memberikan keuntungan financial, tetapi juga media menambah ilmu, wawasan, keterampilan, dan juga teman. “Ini yang membuat saya tak berpaling dari IFA. MLM ini juga telah menjadi tumpuan impian banyak orang. Banyak pula impian-impian itu yang sudah menjadi kenyataan,” pungkasnya.

Sumber : http://ifasmart.com
Ikon ini merupakan link ke situs bookmark sosial dimana pembaca dapat berbagi dan menemukan halaman web baru.
  • Digg
  • Sphinn
  • Delicious
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • 0 komentar:

    Post a Comment